Dua hari yang lalu, tepatnya hari Senin tanggl 22 Juli 2013, dengan terpaksa gw harus pulang menggunakan kendaraan umum a.k.a. angkutan kota yang nama kerennya adalah 'angkot'. Suami tidak bisa jemput dan gw sedang tidak bawa kendaraan sendiri. Suami menyarankan agar gw naik taksi saja. Namun gw berpikir bahwa dengan keadaan jalanan Jakarta saat sore hari di bulan Ramadhan yang amat sangat macet, akan lebih menghemat jika gw naik angkot saja (maksimal hanya akan menghabiskan ongkos sekitar 8.000 rupiah) dibandingkan jika gw naik taksi (sudah kebayang 2 lembar uang seratus ribuan akan dipaksa keluar dari dompet). Tepat pukul 16.30 gw bergegas keluar dari ruang kerja dan menuju mesin absensi di basement gedung kantor. Setelah galau memikirkan kendaraan umum apa yang akan mengantar gw pulang, akhirnya dengan sedikit nekat dan keberanian gw putuskan untuk menaiki Mikrolet M01 jurusan Senen-Kampung Melayu. Perasaan canggung dan takut menyelinap setelah gw duduk dibangku angkot....