Cerita di suatu siang. 20/01/2015.
Rintik hujan mulai turun ketika kami masih menyantap semangkuk soto ayam dan setengah piring nasi sebagai pengisi perut di siang itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami berempat sepakat untuk kembali ke kantor dengan menggunakan 2 buah payung yang cukup kecil untuk ukuran badan kami.
Perdebatan sempat terjadi mengenai siapa yang akan berpasangan dengan siapa untuk memakai payung yang tersedia. Akhirnya setelah musyawarah untuk mufakat, berikut adalah pasangan yang terpilih: Shasa dengan Keket dan Fidi dengan Mae.
Menerjang deras hujan dan tiupan angin, kami berjuang segenap hati dan sepenuh jiwa. Detik demi detik, menit demi menit terlewati... kegigihan kami ternyata terkalahkan oleh tetesan air hujan yang semakin membesar. Kami memilih untuk menepi dan berteduh di suatu warung kecil yang yang bernuansa putih. Atas ijin pemilik warung, kami duduk dibangku panjang sambil melakukan 'selfie' alias foto-foto. Untuk menghasilkan foto yang cukup bagus (menurut kami), kami harus mengambil foto beberapa kali dengan angel yang berbeda. Heboh? Ribet? Ribut? Pastinyaaaaa.
Ketika hujan tak kunjung mereda kami sepakati untuk meneruskan perjalanan kami menuju tempat mencari nafkah. Berjuang kembali dengan gagah berani, kami langkahkan kaki dengan keyakinan tinggi tingkat kecamatan. Belasan langkah kami lewati, penuh dengan pekikan dan cekikikan tepatnya. Rasa dingin mulai menggerayangi bagian belakang tubuhku, merasuk sampai ke pakaian dalam. Hhmm... something's wrong, I presume. Aku amati dengan seksama, cara Keket memegang payung kendali. OMG! No wonder! Dia memegang payung yang seharusnya melindungi tubuh kami berdua dengan mencondongkan payung tersebut ke arah depan, sehingga tubuh bagian belakang kami terbuka lebar untuk membiarkan hujan jatuh membasahi. "Ket, kamu terlalu kedepan pegang payungnya. Pantes aja punggung gw basah kuyup", tegurku. Dengan tanpa dosa dan berteriak, dia menjawab, " Iyaaa... supaya sepatuku ga basah, mom". Hadeeuuhh. Mau di payungin kayak apa, tuh sepatu bakalan basah juga keleuuss, Catharina Aprillia Priyas Utami!
Belum lagi cipratan air yang disebabkan oleh kendaraan bermotor yang melintas di jalan. Dengan gesit kami harus melompat ke pinggir jalan untuk menghindari cipratannya. Guncangan dan senggolan terjadi selama perjalanan, berusaha menjaga keseimbangan agar kami tetap berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan payung kecil tersebut. Memang agak berbeda dengan pasangan yang satunya, Fidi dan Mae. Mereka terlihat lebih tenang dan terarah.
Jadi hanya agar sepatu tidak basah kena hujan, punggung pun jadi korban. Waaakkwaawwww... Kekeeeeetttt!!!
Alhasil, sesampainya di kantor, kami harus menjemur pakaian dan sepatu yang terlanjur basah kuyup tadi. Kantor terlihat lebih meriah dengan hiasan sepatu dan payung yang berbaris serta baju yang disampirkan ke bangku kerja.
Alhasil, sesampainya di kantor, kami harus menjemur pakaian dan sepatu yang terlanjur basah kuyup tadi. Kantor terlihat lebih meriah dengan hiasan sepatu dan payung yang berbaris serta baju yang disampirkan ke bangku kerja.
Walaupun pakaian di tubuh dan sepatu basah kuyup, kami tetap tertawa lebar menikmati semua itu dengan gembira ria jenaka.
Terima kasih buat siang yang seru, sahabat-sahabatku!
Basah... basah... basah... aahh aahh aahh...

Comments
luvusothumblerrrr ^-^
tunggu kisah-kisah aneh selanjutnya ya :P